Home Banyuasin Petani Banyuasin Duga Ada Permainan Kartel Dibalik Penurunan Harga Kelapa

Petani Banyuasin Duga Ada Permainan Kartel Dibalik Penurunan Harga Kelapa

Gubernur Sumsel, H Herman Deru saat menemui para peserta aksi. Deru menawarkan peremajaan tanaman kelapa untuk mengatasi anjloknya harga di tingkatan petani

 

REHAT – Ribuan petani kelapa asal Kabupaten Banyuasin, Kamis (29/11), menggelar aksi unjuk rasa di halaman DPRD Sumsel. Kedatangan mereka bertujuan meminta pemerintah segera menstabilkan harga kelapa yang dalam tiga bulan terakhir terus mengalami penurunan.

“Harga kelapa per butirnya saat ini sekitar Rp700-1000. Jauh dari sebelumnya yang mencapai Rp2-3 ribu. Kami mohon bapak Gubernur dan Dewan yang terhormat bisa mengambil tindakan,” ujar Perwakilan Petani Kelapa Banyuasin, Muhammad Asri saat menyampaikan aspirasinya di hadapan Gubernur Sumsel, H Herman Deru dan Plt Ketua DPRD Sumsel, H M Yansuri.

Asri mengatakan tak hanya harga kelapa, komoditas kopra pun ikut mengalami penurunan yang signifikan. Jika sebelumnya harganya sekitar Rp 8-11 ribu, kini harganya hanya beberapa ribu saja. Asri menduga ada permainan kartel dalam penurunan harga kelapa ini. Indikasinya kata Asri bisa dilihat dimana kelapa yang dikelola industri tidak mengalami penurunan sama sekali. “Sementara harga kelapa rakyat terus anjlok,” katanya.

Asri meminta kepada pemerintah agar bisa menyerap produksi kebun kelapa rakyat dengan membangun industri pengolahan. “Kelapa kami kadang terpaksa dijual dengan harga Rp600 saja per butir. Pendapatan kami turun drastis. Untuk kehidupan sehari-hari saja kurang,” keluhnya.

Menanggapi keluhan petani, Gubernur Sumsel, H Herman Deru mengatakan permasalahan perkebunan kelapa Sumsel tidak hanya terletak pada harga. Tapi juga produksi yang mengalami penurunan lantaran tanaman yang kurang produktif. Sehingga, pihaknya menawarkan petani untuk melakukan replanting atau penanaman kembali bibit kelapa. Dimana nantinya, dinas terkait akan membantu pembelian bibit petani.

“Saya akan dorong dinas terkait melakukan replanting kelapa agar ini bisa tetap menjadi salah satu penghasilan bagi saudara-saudara kita di Banyuasin,” ucap Deru.

Proses pengolahan kelapa juga masih dilakukan secara tradisional. Mulai dari panen, pemisahan sabut, hingga pengupasan batok kelapa. Padahal, sambung Deru, potensi tanaman kelapa Sumsel cukup tinggi dimana luasannya mencapai 67 ribu hektar.

“Ke depan kami akan berikan pelatihan kepada petani. Sehingga, proses pengolahan buah kelapa bisa modern,” terangnya.

Terkait dugaan kartel seperti yang disampaikan petani, Deru menyerahkan sepenuhnya kepada aparat kepolisian untuk penyelidikannya. “Saya minta polisi bisa mengusut tuntas jika benar ada dugaan kartel yang mengendalikan harga,” tegasnya. (JAY)